Di sisi mujahid, ada mujahidah….

menikah

 

Terkadang hati ini tertanya-tanya….kenapa masih perlu menunggu? Sedangkan aku tahu, aku telahpun menemui mujahidku… diri ini terlalu yakin, dialah jawapan doa hari2 ku… “Ya Allah, kurniakanlah kepada ku hamba Mu yg soleh sebagai suami, agar dia dapat membimbingku menuju syurgaMu…”

Resah gelisah hati menunggu…mengira setiap detik dan waktu, impian itu menjadi kenyataan… bersama-sama si mujahid… menemaninya dalam perjuangannya… eh?? perjuangan?? Ya Allah…aku lupa lg… seorang mujahid, tujuannya satu… berjuang malah berkorban utk menegakkan Deen-ul-haqq… walau telah bergelar suami, perjuangan tetap berjalan.. pengorbanan tetap diteruskan!! Malah itu juga seharusnya menjadi perjuangan aku juga bukan?..

“Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya….” [33:4]

Hati si mujahid telahpun sarat dgn cinta kepada Rabbnya.. yg menjadi pendorong kepada perjuangannya.. (begitulah haprapnya) .. mana mungkin pada masa yg sama, si mujahid menyintai ku (setelah bergelar isteri) dengan sepenuh hatinya? Walaupun setelah ku curahkan selautan sayang.. ku legakn penat lelah perjuangannya dengan gurauan manja.. ku cukupkan makan pakainya….si mujahid masih tidak boleh leka dr perjuangannya!! Ya Allah, aku kah yang akan menjadi fitnah yang melekakannya dari perjuangannya yg dulu cukup ikhlas hanya untuk Rabbnya???…..

“Katakanlah, “ Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, ISTERI-ISTERImu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khuwatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya serta berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusanNya” dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”…..[9:24]

Oh tidak!! Aku tidak mahu menjadi penyebab si mujahid leka akan tanggungjawabnya yang lebih besar…tanggungjawabnya utk Ad-Deen ini…. Tapi sanggupkah??…sanggupkah diri ini hanya memperoleh secebis hati si mujahid yg telah sarat dgn cintanya kepada yg lebih berhak?? Sanggupkah diri ini sering ditinggalkn tatkala si mujahid perlu ke medan juang?? Malah sanggupkah diri ini melepaskn si mujahid pergi sedangkn hati ini tahu si mujahid yg teramat di cintai mungkin akan keguguran di medan juang??..sanggupkah??? Allah dan Rasul tetap menjadi pilihan! Mampukah aku menjadi seperti mereka?? Mampukah aku membuat pilihan yang sama kelak, setelah mabuk di lautan cinta kehidupan berumah tangga?? Mampukah aku mengingatkn si mujahid tatkala dia terlupa dan terleka dari cintanya dan tugasnya demi Rabbnya?? Atau aku juga akan turut hanyut malah lebih melemaskn lagi si mujahid dengan cinta duniawi??

Ya Allah… Layakkah diri ini menginginkan suami semulia Rasulullah..sedangkn diri ini tidak sehebat Khadijah mahupun Aisyah… Lihat sahaja isteri-isteri Nabi… Ummul-muslimin…Ummi-ummi kita…lihat saja perjuangan dan pengorbanan mereka… lihat sahaja ketabahan hati mereka… sehinggakn setelah diberi pilihan antara cinta duniawi dan cinta mereka terhadap Allah dan Rasul…Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu “Jika kamu menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut’ah dan ku ceraikan kamu dengan cara yang baik“ [33:28]

 

Ah sudah wahai hati, hentikan saja angan-anganmu, hentikan saja kiraan waktumu…. Masanya belum tiba utuk kau memiliki si mujahid, kerana kau sendiri belum lagi menjadi seorang mujahidah yang sebenar!! Hati, janganlah kau sibuk mengejar cinta mujahid, tetapi kejarlah cinta Penciptanya…Hati, janganlah kau lekakan aku dengan angan-anganmu…sedangkan masih terlalu banyak ilmu yg perlu ku raih…. Hati, sedarkah engkau ujian itu sunnah perjuangan??…tapi kau masih terlau rapuh utk menghadapinya…kau perlu tabah!! dan aku tahu, kau tak mampu utk menjadi sebegitu tabah hanya dalam sehari dua… Duhai hati… bersabarlah… perjalanan kita masih jauh…. bersabarlah… teruskan doamu… hari itu akan tiba jua…. pabila engkau telah bersedia menghadapinya kelak…. bersabarlah…..

Advertisements

Saatnya Nikah…hot!!!

“Apabila datang kepadamu seorang laki-laki datang untuk meminang yang engkau ridho terhadap agama dan akhlaqnya maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi.” (HR Tarmidzi dan Ahmad) Saya tidak tahu apakah ini merupakan HUKUM SEJARAH YANG DIGARISKAN ALLAH.Ketika orang MEMPERSULIT APA YANG DIMUDAHKAN ALLAH, MEREKA AKHIRNYA BENAR-BENAR MENDAPATI KEADAAN YANG SULIT DAN NYARIS TAK MENEMUKAN JALAN KELUARNYA. Mereka menunda-nunda pernikahan tanpa ada ALASAN SYAR’I dan akhirnya mereka mereka benar-benar takut melangkah di saat hati sudah sangat menginginkannya. Atau ada yang sudah benar-benar gelisah tak kunjung ada yang mau serius. Kadangkala lingkaran ketakutan itu berlanjut. Bila di usia dua puluh tahunan mereka menunda pernikahan karena takut dengan ekonominya yang belum mapan, di usia menjelang tiga puluh hingga sampai tiga puluh lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki mengalami SINDROM KEMAPANAN (meski wanita juga banyak yang demikian, terutama mendekati usia 30). Mereka (laki-laki) menginginkan pendamping dengan kriteria yang sulit dipenuhi. Seperti HUKUM KATEGORI, semakin banyak kriteria semakin sedikit yang masuk kategori. Begitu pula KRITERIA TENTANG JODOH, ketika MENETAPKAN KRITERIA YANG TERLALU BANYAK MAKA AKHIRNYA BAHKAN TIDAK ADA YANG SESUAI DENGAN KEINGINAN KITA.

   Sementara wanita yang sudah berusia sektar 35 tahun, masalahnya bukan kriteria tetapi soal apakah ada orang yang mau menikah dengannya. Ketika usia sudah 40-an, ketakutan kaum laki-laki sudah berbeda lagi, kecuali bagi mereka yang tetap terjaga hatinya. Jika sebelumnya banyak kriteria yang dipasang pada usia 40-an muncul ketakutan apakah dapat mendampingi isteri dengan baik. Lebih-lebih ketika usia beranjak 50 tahun, ada ketakutan lain yang mencekam. Yaitu KEKHAWATIRAN KETIDAKMAMPUAN MENCARI NAFKAH sementara anak masih kecil. Atau ketika masalah nafkah tak merisaukan KHAWATIR KEMATIAN lebih dahulu menjemput sementara anak-anak masih banyak perlu dinasehati. Apabila tak ada iman maka muncul keputusasaan. WAHAI ALI JANGAN KAU TUNDA-TUNDA Apa yang menghimpit saudara kita sehingga MEREKA SANGGUP MENETESKAN AIR MATA. Awalnya adalah KARENA MEREKA MENUNDA APA YANG HARUS DISEGERAKAN, MEMPERSULIT APA YANG SEHARUSNYA DIMUDAHKAN. Padahal Rasululloh berpesan: ?Wahai Ali, ada TIGA PERKARA JANGAN DITUNDA-TUNDA, apabila SHOLAT TELAH TIBA WAKTUNYA, JENAZAH APABILA TELAH SIAP PENGUBURANNYA, dan PEREMPUAN APABILA TELAH DATANG LAKI-LAKI YANG SEPADAN MEMINANGNYA.” (HR Ahmad) Hadis ini menunjukan agar TIDAK BOLEH MEMPERSULIT PERNIKAHAN BAIK LANGSUNG MAUPUN TAK LANGSUNG. Secara LANGSUNG adalah menuntut mahar yang terlalu tinggi. Atau yang sejenis dengan itu. Ada lagi yang TIDAK SECARA LANGSUNG. Mereka membuat kebiasaan yang mempersulit, meski nyata-nyata menuntut mahar yang tinggi atau resepsi yang mewah. Sebagian orang mengadakan acara peminangan sebagai acara tersendiri yang tidak boleh kalah mewah dari resepsi pernikahan Sebagian lainnya melazimkan acara penyerahan hadiah atau uang belanja untuk biaya pernikahan secara tersendiri. Bila seseorang tak kuat menahan beban, maka bisa saja melakukan penundaan pernikahan semata karena masalah ini.

   Saya sangat khawatir akan KERUHNYA NIAT dan BERGESERNYA TUJUAN. Sehingga pernikahan itu kehilangan barokahnya. Naudzubillah Penyebab lain adalah LEMAHNYA KEYAKINAN KITA BAHWA ALLAH PASTI AKAN MEMBERI REZEKI atau bisa jadi CEERMINAN DARI SIFAT TIDAK QONA’AH (MENCUKUPKAN DIRI DENGAN YANG ADA). PILIHLAH YANG BERTAKWA Suatu saat ada yang datang menemui Al Hasan (cucu Rasululloh). Ia ingin bertanya sebaiknya dengan siapa putrinya menikah? Maka Al Hasan ra berkata: “KAWINKANLAH DIA DENGAN ORANG YANG BERTAKWA KEPADA ALLAH. SEBAB, JIKA LAKI-LAKI MENCINTAINYA, IA MEMULIAKANNYA, DAN JIKA IA TIDAK MENYENANGINYA, IA TIDAK AKAN BERBUAT ZALIM KEPADANYA.” Nasihat AL Hasan menuntun kita untuk MEMBENAHI PIKIRAN. Jika kita menikah dengan orang yang bertakwa, cinta yang semula tak ada meski cuma benihnya, dapat bersemi indah karena komitmen yang memenuhi jiwa. Wallahu alam bi showwab.     

REFERENCE: Seminar Keluarga Sakinah, 16 Ogos 2002 (Keluarga Muslim) Catatan: AUTHOR: M. Fauzil Adhim “

Sajak As-Syahid Sayyid Qutb

1_552004488m

Saudara!
Seandainya kau tangisi kematianku
dan kau siram pusaraku dengan air matamu
maka diatas tulangku yang hancur luluh
nyalakanlah obor buat umat mulia ini
dan teruskan perjalanan ke gerbang jaya

Saudara!
Kematianku adalah suatu perjalanan
mendapatkan KEKASIH yang sedang merindu
taman-taman di syurga TUHAN-ku bangga menerimaku
burung-burungnya berkicau riang menyambutku
bahagialah hidupku dialam abadi

Saudara!
Puaka kegelapan pasti akan hancur
dan alam ini akan disinar fajar lagi
biarlah rohku terbang mendapatkan rindu-NYA
janganlah gentar berkelana di alam abadi
nun di sana fajar sedang memancar

Parents’ Rights In Islam

 

Parents’ rights in Islam
By: Magdy Abd Al-shafy
None can deny the parents’ favor upon their children. The parents are the underlying reason for the existence of the child. They have reared him in his babyhood and experienced painstaking efforts to provide full comfort and sound well-being. Your mother had you in her womb while you were a parasite there sharing her food and whole being for nine months. In this context, Allah says:

“And We have enjoined on man (to be dutiful and good) to his parents. His mother bore him in weakness and hardship upon weakness and hardship…” (31:14)

It is a preliminary stage followed by incubation and breast feeding for two years marked by peculiar fatigue and hardships. The father, on his part, is meanwhile also fully engaged catering for his child and bringing him up, not sparing any sort of instructions or guidance he could provide his child with; the child, meanwhile, a helpless creature is neither harmful nor useful to himself.

Allah has always enjoined that children should be good and thankful to their parents and He says:
“And We have enjoined on man (to be dutiful and good) to his parents. His mother bore him in weakness and hardship upon weakness and hardship, and his weaning is in two years – give thanks to Me and to your parents, – unto Me is the final destination.” (31:14)

“… And that you be dutiful to your parents. If one of them or both of them attain old age in your life, say not to them a word of disrespect, nor shout at them but address them in terms of honor. And lower unto them the wing of submission and humility through mercy, and say: “My Lord! Bestow on them Your Mercy as they did bring me up when I was small.” (17:23, 24)

The right of parents upon you is to do good with them. You should be good to them physically as well as monetarily, and also with your words and your actions. You should be obedient to them unless in it there is disobedience to your Lord or there is some harm to you. Be kindhearted to them and serve them as they need your help. In their old age, in case of any ailment or weakness, never consider them a burden on you, neither speak to them harshly, because one day you will also become as old as they are. You will be a father as they are your parents and, if life permits, soon you will be an old man before your children just like your parents became old before you. So you need the help of your children as your parents need you today. If you are doing good to your parents then you must have the good news of a great reward and a better showing from your children, because whoever remained good to his parents, his children will also be good to him; and whoever annoyed his parents, will also be annoyed by his children. It is the process of recompense that deeds provide the results accordingly “as you sow, so will you reap. Allah has ranked the rights due to the parents high next only to His and the Prophet’s, Allah says:

“Worship Allah and join none with Him in worship, and do good to parents…” (4:36)

And Allah also says: “…give thanks to Me and to your parents… (31:14)

Being dutiful to one’s parents assumes priority even over Jihad (fight in the cause of Allah) as is narrated in the tradition of Ibn Mas’ood  when he asked the Prophet (p.b.u.h.):
“Which deed is most beloved by Allah?” He said, ‘Observing prayer in time.’ “And next to that?” He said: ‘Being dutiful to one’s parents.’ “And next to that?” He answered: ‘Jihad (fight in the cause of Allah).'”

This Hadith (Prophetic saying) reported by Bukhari and Muslim points directly to the significance of the rights due to one’s parents.

Unfortunately, most people have forgotten these rights, instead disobedience and severance of ties have risen to harden the hearts, and even they contempt and detest their parents. Some people have even deemed themselves superior to those two old good creatures. A recompense is sure in store for those disobedient children, sooner or later.

 

 

PEJUANG CINTA …hehehe

Baru-baru ni seorang pemuda minta pandanganku tentang sahabatnya seorang lelaki yang tengah frust menungging kerana ditinggalkan oleh girfriendnya. ‘Kesian’ dia sampai merasakan yang hidupnya telah musnah. Dia dah tak nak buat apa-apa untuk masa depannya . Baginya masa depan adalah untuk wanita itu. Kini impian itu berkubur bersama pemergiannya. Bagi wanita itu, apa yang dibuat oleh lelaki itu membenarkan lagi tindakannya meninggalkan lelaki itu. Benar, bahawa lelaki itu tak layak memimpin hidupnya kerana ia tak mampupun memimpin emosi dan fikirannya. Dulu waktu aku mengajar di KL, ada seorang pelajarku tak masuk kelas berkali-kali. Bila aku tanya apa masalahnya? Ia berkata, akhir-akhir ini ia terpaksa menunggu girlfriendnya di depan bilik kuliah kerana ada lelaki lain yang meminati girlfriendnya dan akan bawa girlfriendnya makan setiap kali habis kelas. Untuk memastikan lelaki tu tak ‘ganggu’ GF dia, dia tunggu sampai 3 jam di luar kelas. Ajaib…kelas aku langsung tak masuk… Ini cuma beberapa kisah ‘hebat’ lelaki yang belum berumahtangga lagi telah memperhambakan dirinya kepada cinta. Pada seorang wanita yang belum menjadi isterinya. Ironinya, ia bersikap sedemikian ketika di kelilingnya masih ada jutaan wanita yang terpaksa memburu lelaki soleh dan berebut untuk mendapatkannya lantaran makin kurang lelaki dalam spesis begitu. Aku tahulah kalau putus cinta memang kecewa. Tapi tak usahlah sampai berbulan-bulan kecewa. Seminggu dua dahlah. Hentuk kepala tu puas-puas, menanggis puas-puas. Tahajjud puas-puas, mengadu dengan Allah sebanyak mungkin…pasti lega perasaan tu. Yang penting anda telah buat yang terbaik, tapi dia tak nak!! Biarlah, pasti Allah akan gantikan ia dengan wanita yang lebih mulia di hadapan sana. Syaratnya andapun kenalah memperbaiki diri. Bukan memperbodohkan diri. Nasib perempuan tu pun tak pasti lagi di masa hadapan. Panjang lagi masa. Banyak lagi sejarah akan tercipta. Andai ia bahagia…syukurlah. Andai derita…ia tanggunglah sendiri. Anda sudah pernah memberi ruang dan peluang. Jangan berdendam tapi tunggu dan lihat… Ramai lagi wanita kat dunia ni Bro! pilihlah yang terbaik buat menjadi ibu pada zuriatmu. Kebaikan mewariskan kebaikan. Begitu juga sebaliknya. Rasulullah SAW pun pernah berpesan pada kita orang lelaki: اخْتَارُوا لِنُطَفِكُمُ الْمَوَاضِعَ الصَّالِحَةَ (Pilihlah tempat tumpahnya benih kamu tempat yang baik). (al-Dar Qatni, Ali bin Umar al-Dar Qatni, (1966), Sunan al-Dar Qatni, Beirut; Dar al-Makrifah, Jil. 3 Hal. 298 No. 196). Alah Bro, nanggis sikit-sikit udahlah. Takde gunanya menitiskan airmata lama-lama hanya untuk seorang wanita sedangkan jutaan wanita sekeliling anda berebut mencari lelaki mulia. Apatah lagi ramai lelaki sekarang sudah menanggalkan kelakiannya dan bertukar menjadi ‘separuh wanita’. Yang sempurna kelakiannya pula ada yang lebih meminati rakan sejenis dan bila melihat wanita ia tak merasa apa-apa yang istimewa. Dunia dah nak kiamat…. Pejuang cinta begini sebenarnya telah menyempitkan dunianya, impiannya dan peranannya dalam hidup. Mereka lelaki yang kelakiannya tak mampu mengangkat seketul batu kecilpun dari atas kepalanya, apatah lagi untuk mengangkat beban penjajahan dari kepala ummah. Perjuangan hidup mereka hanya untuk nafsu dan keseronokan diri. Mereka pemburu romantis dan hamba wanita. Berbeza dengan pemuda di zaman Rasulullah SAW. Seluruh umur mereka hanya untuk orang lain…untuk ummah…untuk menegakkan agama Allah di atas muka bumi. Wawasan mereka amat jauh, dari dunia hingga akhirat. Lihat saja pengorbanan Mus’ab bin Umair, menghabiskan waktu mudanya untuk perjuangan. Anak orang kaya ini akhirnya meninggalkan kota Mekah untuk melaksanakan misi dakwah di kota Yathrib. Melaksanakan arahan Rasulullah SAW. Hingga hampir semua rumah di Madinah telah menerima seruannya. Ini berlaku sebelum Rasulullah berhijrah ke Yathrib (selepas tu Madinah) lagi. Mus’ab bin Umair akhirnya syahid di Uhud ketika usia muda dan harta milik terakhirnya Cuma sehelai kain…tapi syahidnya ia membuatkan air mata Rasulullah SAW menitis. Ia mati sebagai pejuang di usia mudanya. Selain Mus’ab, ramai lagi pemuda Islam yang menghabiskan usia mudanya unuk mengejar cinta Allah melalui perjuangan. Mereka korbankan usia, harta dan nyawanya untuk agama Allah. Mereka mendambakan syurga yang dipenuhi bidadari jelita yang tiada tolok bandingnya dengan secantik-cantik wanita dunia. Pejuang cinta di kalangan wanita juga tak banyak bezanya. Ramai yang sanggup meninggalkan perjuangannya yang membolehkannya memperolehi cinta Ilahi kerana mengikut kemahuan seorang lelaki. Setelah Allah membuka pintu cinta kepada pencipta, ia akhirnya menutup semua itu hanya kerana ingin memiliki kasih seorang lelaki. Lelaki yang tak pasti akan menjadi jodohnya atau tidak. Sayang sekali, hidup pejuang cinta begini tak semuanya berakhir dengan syurga dunia…ramai dunianya telah menjadi neraka sebelum dunia dikiamatkan lagi. Ia telah merasai kiamat kecil dalam hidupnya. Hilang maruah dan harga diri walau baginya dia makin bermaruah dan harga dirinya makin bertambah mahal. Maklumlah kini ia sudah berpunya, sudah ada pasangan untuk berfikir masa depan yang tak pasti…ramai lagi kawan-kawannya yang tak laku. Bila rakan baiknya memberi teguran, ia anggap membernya itu cemburu. Padahal mata-mata yang melihat sebenarnya meluat kerana mereka menjadikan dunia ini hak milik berdua…. Dalam dakwah, pejuang cinta begini agak sukar untuk ditarbiah. Apatah lagi untuk memikul amanah berat bagi menegakkan agama dalam diri, keluarga dan daulah. Awal-awal lagi ia kalah. Menjual cinta Ilahi dengan cinta seorang lelaki. Ia telah memiliki seorang naqib hidup yang akan mengatur mazhab hidupnya sebelum waktunya. Lantaran itu pejuang cinta begini akan tidak merasa bersalah meninggalkan hidayah. Sangat bahaya pemburu cinta begini. Rapuh benar impiannya. Apabila manusia menjadi targetnya, ia memburu cinta yang rapuh. Serapuh hidup dan mati. Lucunya, bila sudah berjuang memburu cinta manusia. Biasanya halaqah mereka dari 10 tinggal lagi berdua. Silibusnya semakin berbeza. Bahkan kadangkala sahabat lama pun terlupa sudah namanya. Ini kerana syahadahnya hanya kenal satu nama…kekasih pujaannya. Bagaimana kesudahannya perjuangan cinta begini…untung sabut timbul, untung batu tenggelam. Kalau timbulpun sabut itu, selalunya ia akan belayar tanpa haluan dan tak mampu digunakan walau untuk mengosok badan. Sayangilah usia muda, itu usia perjuangan. Usia mencari kemuliaan. Usia mempertahan kehormatan. Membuat keputusan dan menentu hala tuju kehidupan. Sepatutnya tidak dihabiskan pada agenda yang langsung tidak mendatangkan manfaat pada keturunan akan datang. Dalam aspek tarbiah dan dakwah, kewujudan orang begini mewjudkan banyak kontradaksi. Memandangkan ia ada 2 naqib, maka ia biasanya membawa 2 watak dan 2 wajah. Malamnya berbeza dari siang. Selalunya pandangan buah hati lebih utama dari sang murabbi. Ini kerana hatinya telah dimiliki. Sukar untuk ditembusi cinta ilahi. Akhirnya sang Murabbi terpaksa menerima hakikat yang ia telah kalah. Ia terpaksa membiarkan mutarabbi begini pergi. Gembiralah si buah hati kerana kini kekasih hatinya milik ia seorang. Ia boleh mengusungnya didaratan dan lautan. Lantaran itu membersihkan cinta begini pada peringkat awal amat perlu dalam tarbiah. Bila ia kosong barulah boleh di isi dengan cinta ilahi. Cinta jihadi dan syurgawi. Ia akan mencintai manusia setelah yakin benar manusia itu mencintai tuhannya. Ia akan berjuang mempertahankan cintanya apabila meyakini bahawa manusia itu mampu memperkukuhkan perjuangannya. Cinta yang terjaga dalam pagar rumahtangga dakwah. Adapun membunuh diri dan impian hanya kerana lelaki dan wanita begini, perjuangan yang kurang cerdik. Hanya yang lembab IIQnya dan rendah maruahnya sanggup mati untuk sesuatu yang tak pasti. Tapi tak mustahil kisah begini akan menimpa diri kita sendiri, termasuk penulis ini. Lantaran itu dalam mencari cinta sejati pastikan rumahtangga tempatnya dan banyakkan berdoa:

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي وَمِنْ الْمَاءِ الْبَارِدِ (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon cintamu dan cinta orang yang mencintaimu, dan amalan yang menyampaikan aku kepada cintamu. Ya Allah, jadikanlah cintamu lebih aku cintai dari diriku, keluargaku dan daripada air yang sejuk (ketika panas terik). (Riwayat al-Tarmizi. al-Tarmizi, Muhammad bin Isa. al-Sahih Sunan al-Tarmizi. Beirut; Dar Ihya al-Turath al Arabi. Jil. 5 Hal. 522 No 3490).

dr MUALLIM SAYA : SANG MURABBI UST SARIP ADUL (saripadul.com)

Ancaman Terhadap Seorang Mukmin

Rasulullah sudah berpesan kepada kita tentang perkara ini. Dalam sebuah hadis yang ditakhrijkan oleh Abu Bakar bin Bilal daripada hadith Anas di dalam kitab Makarim Akhlak :”seorang mukmin itu berada diantara lima ancaman:

1. seorang mukmin yang dengki padanya

 2. munafiq yang membencinya

3. kafir yang membunuhnya

 4. syaitan yang menyesatkannya

5. hawa nafsu yang menggodanya”

The healing Power of Koran: Between Science and Faith

Introduction:

There are many cases cured every day by reciting the Koran; we cannot deny that because recovery does happen; it happened to me when I was reciting specific verses for a specific illness and the illness was cured!

Koran Healing is a critical issue which wasn’t given enough study or research, so I thought about starting this journey and asked Allah to guide me, give me the useful knowledge, show me the right and help me do it, and show me the wrong and help me avoid it. One of the most important fruits of this research, which continued for years, was that I came out with an important result: Allah had put in every verse of the Koran a healing power for a certain disease if this verse was recited for a specific number of times.

In the beginning

When we contemplate on the universe around us, we notice that every single atom is vibrating in a specific frequency, whether this atom is part of metal, water, cell, or anything else. So every thing in this universe is vibrating, this is a given scientific fact. .

The basic structure of the universe is the atom, and the basic structure of our bodies is the cell; each cell is made of billions of atoms and each atom is made of a positive nucleus and negative electrons rotating around it; because of this rotation, an electromagnetic field is generated similar to fields generated by an engine.

The atom is the basic structure in the universe and in our bodies; it is constantly vibrating which means that every thing is vibrating according to a precise system. Cells vibrate in a precise system, and any vibration around us affects our cells.

The secret that makes our brain think is an accurate program inside the brain cells; this program is inside every cell doing its task precisely; the smallest defect in its job would cause imbalance and disorder of some of the body parts; the best cure for this imbalance is to restore balance to the body. Scientists discovered that body cells are affected by various vibrations such as light waves, radio waves, sound waves etc. But what is sound?

We know that the sound is made of waves or vibrations moving in the air in about 340m/sec. Each sound has its own frequency, and human can hear from 20 frequencies per second to 20000 frequencies per second (1). These waves spread in the air and then get received by the ear, then turn into electrical signals and move along the acoustic nerve towards the acoustic bark in the brain; the cells correspond to the waves and move into the various parts of the brain especially the frontal part; all these parts work together corresponding to the signals and translating them to a language the human understands. Thus, the brain analyses the signals and gives its orders to the various body parts to correspond to these signals.

The sound is made of mechanic vibrations that reach the ear then the brain cells which correspond to these vibrations and change their own vibration; that’s why the sound is considered an effective healing power depending on the nature of the sound and its frequencies. We find the healing power in the Koran because it is the book of Allah.

From here came sound therapy; the sound is a vibration, and body cells are vibrating, then the sound influences these cells. This is what researchers discovered recently; in Washington University late in the twentieth century, scientists found that the job of a brain cell is not just to transfer information, each cell is a small computer working on collecting information, processing it, and giving orders continuously round the clock. Ellen Covey, a researcher in Washington University, says that it is the first time that we realize that the brain does not work as a big computer, but it contains a huge number of computers working in a cooperative way, there is a small computer in each cell, and these computers are affected by the vibrations around them, especially the sound.

Experiments show that inside each cell in the brain there is a tiny computer which Allah deposited an accurate program that directs the cell and controls its work. They also show that the sound affects the cell; this is a picture of a cell getting affected by a sound and an electromagnetic field is being formed around it.

Thus, we can say that the cells of each body part vibrate in a specific frequency, and form a complicated and coordinated system that is affected by any sound around it. So, any disease affecting any part of the body will cause a change in the vibration of this part’s cells and thus causing it to deviate from the general body system affecting the whole body. This is why, when the body is exposed to a specific sound, this sound influences the vibration system of body and especially the irregular part; this part would respond to specific sounds to restore its original vibration system or, in other words, to restore its healthy condition. Scientists discovered these results recently.

What is the story of this science (the sound therapy)?

Sound therapy story:

Alfred Tomatis, a French doctor, made experiments for fifty years about the human senses and came out with the result that the hearing sense is the most important sense!! He found that the ear controls the whole body, regulates its vital operations and the balance and coordination of its movements; he also found that the ear controls the nervous system!

During his experiments, he found that the hearing nerves connect with all body muscles and this is the reason why the balance and flexibility of the body and the sight sense get affected by sounds. The inner ear is connected with all the body parts such as the heart, lungs, liver, stomach, and the intestines; this explains why sound frequencies affect the whole body (3).

In 1960, the Swiss scientist Hans Jenny found that the sound affects the various materials and reform their particulars, and that each cell of the body has its own sound and gets affected by the sounds and rearranges the material inside it (4). In 1974, the researchers Fabien Maman and Sternheimer made an astonishing discovery; they found that each part of the body has its own vibration system, subject to physics laws. A few years later, Fabien and Grimal, another researcher, discovered that sound affects cells especially cancer cells, and that certain sounds had stronger effect; the strange thing the two researchers found was that the sound that had the strongest effect on body cells is the sound of the human himself.

The sound moves from the ear to the brain and affects the brain cells; scientists recently found that the sound has a strange healing power and an amazing effect of the brain cells which work on restoring the balance to the whole body! Reciting Koran has an astonishing effect on these cells and is capable of restoring their balance; the brain is the organ that controls the body and from it the orders comes to the rest of the body organs especially the immune system.

Fabian, a scientist and musician, put blood cells from a healthy body and exposed them to various sounds; he found that each note of the musical scale affects the electromagnetic field of the cell; when photographing this cell with Kirlian camera, he found out that the shape and value of the electromagnetic field of the cell change according to the sound frequencies and the sound type of the reader. Then he made another experiment taking a blood drop from one of the patients, and then he monitored the drop with Kirlian camera and asked the patient to make various notes. He found, after processing the pictures, that on a specific note the blood drop changes its electromagnetic field and fully vibrates responding to its owner. He thus concluded that there are specific notes that affect the body cells and make them more vital and active, even regenerates them. He came out with an important result: The human sound has a powerful and unique influence over body cells; this influence is not found in any other instrument. This researcher said literally:

“The human sound has a special spiritual ring making it the most powerful healing device (5). Fabien found that some sounds easily explode the cancerous cell, and at the same time activate the healthy cell. The sound affects human blood cells which transfer the frequencies of this sound to the whole body through the blood circulation.

 

But is this influence limited only to cells? It became clear that sound affects everything around us. This is what Masaru Emoto, a Japanese scientist, proved in his experiments on water; he found that the electromagnetic field of water molecules is highly affected by the sound, and that there are specific tones that affect these molecules and make them more regular. If we remember that the human body is 70% water, then the sound the human hears affects the regularity of water molecules in the cells and the way these molecules vibrate, thus affects his healing (6). Different researchers confirm that the human sound could heal many diseases including cancer (7). Sound therapists also confirm that there are certain sounds that are more effective and have a healing power especially in increasing the immune system efficiency (8)

Now, let’s ask the important question: what happen inside body cells and how does sound cure? How does this sound affect the damaged cells and restore their balance? In other words, what is the mechanism of healing?

Doctors are constantly looking for means to destroy some virus; if we think about the mechanism of this virus, what moves it and makes it recognize its way to the cell? Who gave the virus the information stored within which enables it to attack the cells and multiply inside? What moves the cells against this virus to destroy it while stand helpless in front of another virus?

The Koran recitation is made of a group of frequencies that reach the ear then move to the brain cells and affect them through the electronic fields these frequencies generate in these cells; the cells would respond to these fields and modify their vibrations, this change in the vibration is what we fell and understand after experience and repetition.

It is the natural system that Allah gave to the brain cells, it is the natural balance system; this is what Allah told us in the holy Koran: (Allah’s handiwork according to the pattern on which he has made mankind: No change let there be in the work (wrought) by Allah: that is the straight religion, but most of men know not) (Al-Rum, 30).

What are the healing verses?

Dear reader, each verse of the Koran has an amazing healing power for a specific disease; what is confirmed is that the Prophet, Allah’s peace and blessing be upon him, focused on specific chapters and verses, such as reading Al-Fatiha seven times, Al-Kursi verse (verse number 255 in Al-Bakara chapter), the last two verses of Al-Bakara Chapter, and the last three chapters of the Koran.

But the whole Koran heals; you can, dear brother, read the verses that you hope to cure your illness. For example, if you feel upset, focus your reading on Al-Sharh chapter (Have We not opened your breast for you); if you have a sever headache, read: (Had We sent down this Koran on a mountain, you would surely have seen it humbling itself and rending asunder by the fear of Allah. Such are the parables which We put forward to mankind that they may reflect) (Al-Hashr, 21); if you are suffering from pimples, warts, or skin problems then read: (then it is struck with a fiery whirlwind, so that it is burnt) (Al-Baqarah, 266).

If you are afraid, keep repeating Korish chapter, especially the verse: (and has made them safe from fear) (Korish, 4). A strong cure of depression is the repetition of these verses from the Holy Koran: (O mankind! There has come to you a good advice from your Lord (the Koran) and a healing for the diseases in your breasts, a guidance and a mercy for the believers* Say: “In the Bounty of Allah, and in His Mercy (i.e. Islam and the Koran); therein let them rejoice.” That is better than what (the wealth) they amass) (Yunus, 57-58).

The greatest prophet peace be upon him used to say hundreds of supplications every day, do you think he was doing it in vain? He was asking Allah to protect him from evil, including diseases. You can say the supplication that protect you from diseases every day: (I seek refuge in Allah’s perfect words that are obeyed by the faithful and the immoral from all that He created, made in earth and originated from it, from all that come from heaven and ascend into it, from the seductions of the day and the night, and from the night and day visitors except those who bring good, O you most Gracious). Don’t you agree with me that this great prophetic supplication is the best protector from any disease?

Thus, dear brothers and sisters, you can find in the Koran and Sunnah a cure for any disease whether psychological or physical; it is preferred to read the verses in a loud voice so to make your body cells get affected by the sound of the Koran, and to focus on the sick part and imagine that Allah has cured it; repeat these verses and start each time with Al-Fatiha and finish with Al-Falaq and Al-Nas. You can also ask for the verses that are relevant for your disease.

O Allah, make the Koran our cure for every disease…SUBHANALLAH

By: Abed Aldaem Kaheel.

www.kaheel7.com

Notes:

(1) the sound frequencies are measured by hertz, which is a measurement meaning one vibration each second; these sound frequencies are different from one human to another and according to what the human is saying.

(2) Joel Schwarz, How little gray cells process sound: they’re really a series of computers, University of Washington, Nov. 21, 1997.

(3) Tomatis Alfred, The Conscious Ear, Station Hill Press, New York, 1991.

(4)Jenny Hans, Cymatics, Basilius Presse AG, Basel, 1974.

(5) Maman Fabien, The Role of Music in the Twenty-First Century, Tama-Do Press, California, 1997.

(6) Emoto Masaru. The Message from Water,HADO Kyoikusha. Tokyo, 1999.

(7) Keys Laurel Elizabeth, Toning the Creative Power of the Voice, DeVorss and Co. California, 1973.

(8)Simon Heather, The Healing Power of Sound, www.positivehealth.com.

(9) Kara Gavin, University of Michigan researchers publish new findings on the brain’s response to costly mistakes, University of Michigan, April 12, 2006.

(10) Brain Scans as Lie Detectors: Ready for Court Use?, Malcolm Ritter, http://www.livescience.com, 29 January 2006.

(11) Carl T. Hall, Chronicle Science Writer, Fib detector Study shows brain scan detects patterns of neural activity when someone lies, http://www.sfgate.com, November 26, 2001